Thursday, September 29, 2011

Menuju Budaya Ilmiah

OSN merupakan gerbang awal lahirnya semangat keilmuan di masyarakat.

Manado (Dikdas): OSN merupakan gerbang awal lahirnya semangat keilmuan di masyarakat

Olimpiade Sains Nasional (OSN) sudah berusia sepuluh tahun. Ini perjalanan yang tidak sebentar. Tapi OSN tidak akan berhenti di sini. Ia akan terus melangkah ke depan, menatap masa depan bangsa Indonesia.

OSN bukan sekedar kegiatan rutin biasa, tapi merupakan kegiatan dengan grand design yang mulia; menciptakan budaya ilmiah yang mengakar di jantung bangsa Indonesia.

Cita-cita itu bukan bualan, namun akan jadi kenyataan. Melalui kompetisi ilmiah dan tekhnologi secara terus menerus, disertai kampanye bahwa berkompetisi dan berprestasi di bidang sains merupakan sesuatu yang membanggakan, budaya sains akan menjadi sesuatu yang berakar kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Hal di atas, pernah disampaikan H. Abd. Hamid Wahid, M.Ag., anggota komisi X DPR RI, ketika menghadiri OSN IX di Kota Medan, Sumatera Utara, tahun lalu. Menurutnya, OSN merupakan upaya membangun budaya berprestasi dalam keilmuan sejak bangku sekolah.

“Saya kira ini satu langkah yang patut kita hargai, dan kita anggap sebagai gerbang awal menuju lahirnya semangat keilmuan di kalangan masyarakat, yang nantinya bisa memunculkan budaya sains,” kata Abdul Hamid Wahid.

Pendapat yang sama pernah disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Fasli Jalal, bahwa OSN akan menimbulkan semangat belajar dan iklim kompetisi mulai unit paling kecil yaitu; sekolah, desa, kecamatan, kabupaten dan seterusnya.

Dua pendapat tersebut, menjawab ajakan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Mohammad Nuh, DEA., yang ingin menyiapkan generasi 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Apa yang harus kita siapkan dalam menyambut dan mengisi 100 tahun Indonesia merdeka (2045)? Tidak ada warisan yang lebih mulia yang kita berikan kepada bangsa ini kecuali mewariskan generasi yang siap untuk memajukan, mengembangkan dan membangun bangsa sesuai dengan zamannya, dan itu adalah masa adik-adik kita yang sekarang ini sedang mengikuti OSN,” kata Mohammad Nuh, saat menyampaikan sambutan pada acara pembukaan OSN di Gedung Grand Kawanua Convention Center, Manado Sulawesi Utara, Senin kemarin (12/09)
.

OSN Sebagai Gerakan Budaya
Salah satu syarat menuju budaya sains, dibutuhkan sebuah gerakan yang sifatnya massif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Menurut Abdul Hamid Wahid, OSN bisa menjadi motor gerakan tersebut.

“Jadi kalau kita memang menjadikan OSN ini sebagai pintu awal menuju budaya sains, mungkin kita perlu mendorong OSN ini menjadi sebuah gerakan kultural. Salah satu caranya, memantau para juara OSN untuk terus menjadi duta olimpiade agar mereka bisa melakukan kampanye tentang signifikansi sains. Mereka bisa diajak keliling ke sekolah-sekolah untuk menjelaskan bagaimana mereka berproses hingga berprestasi, untuk diambil hikmahnya oleh siswa lain agar bisa mengikuti jejak mereka,” tutur Abdul Hamid Wahid.

Selain itu, tambah Abdul Hamid Wahid, gerakan budaya sains bisa juga dengan mengkaitkan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti wisata yang di dalamnya diisi dengan sebuah acara yang menumbuhkan keingintahuan ilmiah.

“Nah itu kan bisa. Jadi bagaimana mensinergiskan kegiatan ilmiah ini dengan beberapa sektor lain, sehingga kegiatan ilmiah ini bisa menjadi sebuah gerakan budaya. Dan saya kira pendidikan mampu melakukan itu. Karena sekarang ini, pendidikan dalam sisi budget, dia menjadi primadona, yang bisa menarik sektor-sektor lain ke dalam dimensi pendidikan; mengemas dan kemudian berbicara pada arah yang sama,” pungkasnya.

Gerakan budaya sains tersebut, nampaknya memperoleh sambutan hangat dari pemerintah daerah. Karena saat ini, banyak pemerintah daerah yang ingin menjadi tuan rumah OSN.

“Sekarang ini hampir semua provinsi ingin jadi tuan rumah. Artinya model penyelenggaraan OSN itu jadi kebanggaan bagi mereka semua, dan sekaligus merupakan bentuk tanggungjawab mereka sebagai pemerintah daerah dalam rangka pembangunan pendidikan di daerahnya. Ini yang penting,” kata Nono Adya, pada OSN IX di Medan, Sumatera Utara tahun lalu.

Pendapat Nono Adya tersebut diamini Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Drs. Bahrumsyah, MM, dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Utara, Drs. Djouhari Kansil, M.Pd.

“Kepercayan ini kami yakini merupakan jawaban atas rangkaian upaya, usaha, dan kerja keras dari seluruh elemen pendidikan di Sulawesi Utara dalam membangun dan menjadikan pendidikan sebagai leading sector sekaligus pondasi pembangunan bangsa dan negara tercinta,” tegas Djouhari Kansil.*

http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/menuju-buday.html

1 komentar:

  1. erakan budaya sains bisa juga dengan mengkaitkan dengan kegiatan-kegiatan lain seperti wisata yang di dalamnya diisi dengan sebuah acara yang menumbuhkan keingintahuan ilmiah.

    ReplyDelete

Salat Timings