
Ijinkan aku terus mengetuk pintu tak berdaun ini
Ia telah menjadi pelabuhan dan ujung jalan
Dari seribu pertanyaan yang dibangun dengan keangkuhan masa lalu
Kalau perlu, biar kuhabiskan segala kesabaranku menunggu
Di sini..
Walau tak pernah sempurna kumengerti maknanya,
Biar terus kurapalkan kata-kata taubat
sebagai persembahan segenap curahan jiwa terdalamku
atas semua kerinduan yang terus menggelitik urat nadiku pada-Mu
Apakah aku harus peduli Engkau menanggapi harapan Kerinduan ini...
Karena merasakan pedihnya derita bertepuk sebelah tangan
juga adalah seakan hakikat kerinduan itu sendiri
Mengenang-Mu adalah indah
Merindu-Mu adalah Indah...
Lalu bagaimana aku meninggalkan keyakinan harapanku??
Karena itu
Ijinkan aku terus mengetuk pintu tak berdaun ini
Ia telah menjadi pelabuhan dan ujung jalan
Bagi hidup bagi juga matiku..
(Akhir Sya’ban 1431 H)



0 komentar:
Post a Comment