Tuesday, August 3, 2010

Abd. Hamid Wahid: OSN gerbang awal menuju budaya sains


Ditulis oleh Adib Minnanurrachim, tanggal 03-08-2010


Medan (Mandikdasmen): Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan kegiatan positif yang bisa mendorong pembangunan budaya sains di kalangan siswa Indonesia. Melalui kampanye terus-menerus, bahwa berkompetisi dan berprestasi di bidang sains merupakan sesuatu yang membanggakan dan menjadi sesuatu yang harus dikejar, budaya sains akan menjadi sesuatu yang berakar kuat di tengah-tengah masyarakat Indonesia

“Tentunya, proses pembudayaan sains inilah yang perlu kita garis bawahi secara tebal. Karena ini sangat positif. Dan kalau ini berhasil, saya kira akan menjadi sesuatu yang berakar kuat di masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” kata H. Abd. Hamid Wahid, M.Ag., anggota komisi X DPR RI, di Hotel Aryaduta, Medan, Minggu kemarin (01/08).

Saat itu, Abd. Hamid Wahid, anggota DPR RI Fraksi PKB, tiba di Medan bersama dua anggota DPR RI lainnya dari Fraksi Demokrat dan PDIP. Mereka datang atas undangan panitia Olimpiade Sains Nasional.

Lebih jauh tentang OSN Sebagai Pendorong Lahirnya Budaya Sains, berikut petikan wawancara kami bersama Abd. Hamid Wahid:


Bagaimana pendapat Anda tentang kegiatan OSN ini?
Kita mengapresiasi kegiatan OSN ini. Karena ini kan semacam pembudayaan atau membangun budaya berprestasi dalam keilmuan sejak bangku sekolah. Saya kira ini satu langkah yang patut kita hargai, dan kita anggap sebagai gerbang awal menuju lahirnya semangat keilmuan di kalangan masyarakat, yang nantinya bisa memunculkan budaya sains.

Saat berangkat dari Jakarta, kita sempat berdiskusi dengan Bapak Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Pak Fasli Jalal. Di situ, kita harapkan OSN ini ada langkah-langkah lanjutannya. Jadi para pemenang itu tidak sekedar menang, diumumkan dan kemudian selesai. Tapi bagaimana ada tindak lanjutnya. Para juara OSN ini kan merupakan bibit unggul, karena itu mungkin diberi beasiswa. Kata Bapak Wakil Menteri, ini sudah mulai diprogramkan, yang tentu akan menimbulkan semangat belajar dan iklim kompetisi mulai tingkat unit paling kecil yaitu; sekolah, desa, kecamatan, kemudian kabupaten dan seterusnya. Kalau ini berhasil, semangat berprestasi itu akan betul-betul menjadi sesuatu yang membudaya di masyarakat.

Proses pembudayaan inilah yang perlu kita garis bawahi secara tebal. Karena ini sangat positif. Dan kalau ini berhasil, saya kira akan menjadi sesuatu yang berakar kuat di masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat

Sejauh ini, apakah fenomena budaya keilmuan di masyarakat itu sudah ada?
Secara umum barangkali iya. Tapi tingkat percepatannya itu yang sekarang lagi kita pacu. Makanya standar nasional untuk Ujian Nasional itu kan terus kita tingkatkan pelan-pelan. Kita dulu sering mendengar protes masyarakat; kenapa mengejar terlalu cepat. Tapi pelan-pelan mereka kan kemudian mengerti tentang tuntutan global.

Namun, hal itu tidak cukup dengan kebijakan struktural. Nah saya kira, sisi OSN ini adalah mencoba menggarap sisi kultur masyarakatnya. Jadi antara kebijakan yang sifatnya struktural dan pembiasaan yang sifatnya kultural dan mengakar di masyarakat, ini perlu terus berjalan dengan seimbang.

Dan OSN ini, kalau kita tangani secara serius, bisa mempercepat pembudayaan keilmuan itu. Tapi catatannya, OSN ini hanyalah pintu gerbang saja, pintu awal. Langkah selanjutnya misalnya; pertama, membina dan menangani lebih lanjut anak yang berprestasi di OSN ini. Kedua, mungkin kita perlu memberikan insentif kepada lembaga sekolah, dan atau daerah, agar mampu melahirkan anak-anak yang berprestasi dalam bidang sains. Ketiga, memberi apresiasi positif kepada kultur sains ini dengan terus melakukan penguatan dengan kampanye. Jadi ada gerakan kampanye untuk mendorong pembudayaan ini.

Bisa diberi contoh lebih konkrit?
Misalkan pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi, baik oleh kementerian dan atau mungkin bisa kerjasama dengan pemerintah daerah. Kemudian memantau para juara OSN untuk terus menjadi duta olimpiade agar mereka bisa melakukan kampanye tentang signifikansi sains. Mereka bisa diajak keliling ke sekolah-sekolah untuk menjelaskan bagaimana mereka berproses hingga berprestasi, untuk diambil hikmahnya oleh siswa lain agar bisa mengikuti jejak mereka.

Jadi kalau kita memang menjadikan OSN ini sebagai pintu awal menuju budaya sains, mungkin kita perlu mendorong ini menjadi sebuah gerakan kultural; ada kampanye bahwa berprestasi di dalam bidang sains dan kemudian berkompetisi di bidang sains itu merupakan sesuatu yang membanggakan dan menjadi sesuatu yang harus dikejar.

Selain itu, bisa juga dengan mengkaitkan dengan kegiatan-kegiatan lain, misalkan kegiatan wisata yang di dalamnya diisi dengan sebuah acara yang menumbuhkan keingintahuan ilmiah. Nah itu kan bisa. Jadi bagaimana mensinergiskan kegiatan ilmiah ini dengan beberapa sektor lain, sehingga kegiatan ilmiah ini bisa menjadi sebuah gerakan budaya. Dan saya kira pendidikan mampu melakukan itu. Karena sekarang ini, pendidikan dalam sisi budget, dia menjadi primadona, yang bisa menarik sektor-sektor lain ke dalam dimensi pendidikan; mengemas dan kemudian berbicara pada arah yang sama.*



[Penggali data: Adib Minnanurrachim dan Billy Antoro]

Copyright © 2009 - Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Fashion Design Schools

http://www.mandikdasmen.kemdiknas.go.id/web/berita/744.html

1 komentar:

  1. lanjutkan kiprah perjuanganmu sahabat.....

    ReplyDelete

Salat Timings